Dirigen Lombok Tengah Mendunia

Haji Masrun bukan nama yang asing di telinga warga Kabupaten Lombok Tengah. Namanya identik dengan Disnakertrans. Jauh sebelumnya, Masrun muda dikenal sebagai pekerja ulet cum wirausaha perkayuan sukses di Pulau Lombok.  Kini, Masrun memantapkan diri memasuki dunia politik. 

Birokrat yang Melayani

Satu yang begitu melekat sebagai birokrat, Masrun menjadi tokoh sentral di balik berdirinya Layanan Terpadu Satu Pintu Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (LTSP-P2TKI) yang berhasil menyatukan delapan layanan ketenagakerjaan dalam satu pintu. Benang kusut pelayanan pekerja migran Indonesia atau yang sebelumnya dikenal sebaga tenaga kerja Indonesia (TKI) berhasil diurai dan disederhanakan. Berkat layanan terpusat ini, Lombok Tengah didapuk sebagai yang terbaik di Indonesia dalam Pelayanan Penempatan Pekerja Migran Indonesia (P3MI). Penghargaan ini semakin mengokohkan nama Masrun sebagai sosok birokrat yang melayani dengan sepenuh hati. Pelayanan yang mengedepankan sisi kemanusiaan dan sudut pandang yang menempatkan semua warga memiliki hak yang sama unduk dilayani secara terhormat.

Pendirian LTSP tentu saja bukan hal mudah di daerah yang dikenal sebagai salah satu lumbung TKI seperti Lombok Tengah. Saat memulai, menyatukan delapan lembaga pemberi layanan pekerja migran seperti penguk merindukan bulan. Selama ini, citra pelayanan calon pekerja migran identik dengan birokrasi berbelit, lama, marak calo, biaya tidak transparan, dan menjamurnya pungutan liar. Akibatnya, orang enggan menempuh prosedur resmi, sehingga menjadi objek eksploitasi. Banyak pekera migran ilegal, tidak terdata, dan kesulitan dalam penanganan kasus. Pengaduan dan tumpukan masalah akut itu yang dihadapi Masrun sejak menginjakkan kaki di Disnakertrans. Kantor barunya itu tak ubahnya supermarket masalah TKI. Semua masalah TKI ada di Disnakertrans.

“Ibarat kata Meggi Z, ‘Orang lain yang berlabuh, aku yang tenggelam’. Ada TKI dipancung, keluarga larinya ke kami. Ada yang dideportasi, lari ke kami. Pada saat yang sama, kami diserbu mereka yang ingin bekerja di luar negeri dengan segenap permasalahan yang mereka bawa. Dari situ saya merenung. Saya belajar bagaimana masalah-masalah itu muncul, bagaimana solusinya. Terus terang hati saya terluka setiap kali mendapat laporan penganiayaan TKI oleh majikan atau masalah-masalah hukum yang kerap mendera saudara-saudara kita di luar negeri,” ungkap Masrun dalam sebuah wawancara khusus yang berlangsung di salah satu sudut rumahnya yang asri di Jontlak, Praya Tengah.

Keresahan itu yang kemudian semakin menguatkan tekad Masrun untuk mewujudkan LTSP-P2TKI sebagai entitas pemerintah yang hadir melayani warga secara mudah dan manusiawi. Tak ada lagi calo, pungutan liar, manipulasi data, dan borok-borok lain yang sebelumnya menahun. Semua lembaga yang berkaitan dengan layanan pekerja migran satu per satu didatangi, diberikan pengertian sekaligus diajak mendekatkan pelayanan kepada masyarakat.

Tak semuanya membuka diri. Bahkan, ada lembaga yang menolak mentah-mentah untuk membawa layanannya ke Lombok Tengah. Tak kehabisan akal, Masrun lantas menghubungi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk meminta bantuan agar lembaga yang menolak tersebut bersedia membuka layanan di Lombok Tengah, dengan catatan khusus dalam rangka pencegahan korupsi. Sementara itu, guna menjamin transparansi pelayanan, Masrun memasang belasan kamera pemantau alias CCTV di loket pelayanan. Semua harus terbuka. Semuanya transparan.

Kerja kerasnya tak sia-sia. Layanan yang semula berbelit dan lama bisa diselesaikan dalam satu hari di satu tempat. Calon pekerja migran tak perlu lagi pergi ke Mataram untuk mengurus dokumen ketenagakerjaan maupun catatan kepolisian dan kesehatan. Dokumen dasar kependudukan, penerbitan paspor, catatan kepolisian, pembuatan ID CTKI, polis asuransi BPJS, sarana kesehatan, serta e-KTKLN diselesaikan tuntas. Walhasil, ketika daerah lain hanya bisa menerbitkan 1.000-2.000 paspor, LTSP Lombok Tengah menerbitkan paspor hingga 30.000 dalam satu tahun. Dan, seluruh penerbitan paspor pertama gratis.

From Zero to Hero

Sebelum menjelma menjadi sosok paling diperhitungkan menjelang Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Lombok Tengah pada 2020 mendatang, Masrun kecil bukanlah siapa-siapa. Lahir dari keluarga sederhana dengan 13 orang bersaudara tentu saja tak mudah mendapat kesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Masrun kecil pun tumbuh dalam keterbatasan. Satu-satunya jalan mengukir masa depan gemilang adalah dengan membangun kemandirian dan menjalani hidup penuh semangat juang. Itu pula yang dilakukan Masrun muda. 

Selepas menamatkan pendidikan di SMA Negeri 1 Praya pada 1985, setahun kemudian Masrun mencoba peruntungan dengan melamar sebagai pegawai Departemen Koperasi (kini Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah). Setelah melalui berbagai tahapan seleksi, Masrun dinyatakan lolos menjadi petugas konsultasi koperasi lapangan (PKKL). Namun demikian, baru dua tahun kemudian mendapat pendidikan khusus perkoperasian. Dia berkesempatan mengikuti kursus manajemen koperasi pada 1988. Pada tahun ini pula Masrun resmi mengikat pernikahan dengan Suryatni, gadis pujaan hati yang ditemuinya saat bersama-sama menumpang kendaraan umum di Pulau Lombok. Setahun kemudian, Masrun dipanggil untuk mengikuti kursus PKKL yang memang menjadi tugas kesehariannya. 

Tugas sebagai PKKL itu yang kemudian mengantarkan Masrun muda blusukan ke desa-desa untuk melakukan pembinaan terhadap koperasi unit desa (KUD) yang booming sepanjang masa keemasan Orde Baru. Selama beberapa tahun bekerja di Pulau Lombok, Masrun memastikan telah ¬khatam merambah seluruh desa. Tugas baru pun datang. Pada 1991 dia dikirim ke Dompu di Pulau Sumbawa. Maklum, kala itu sistem pemerintahan masih sentralistis. Artinya, setiap pegawai harus bersedia ditempatkan di mana saja di wilayah Republik Indonesia. Keluarga muda ini pun pindah ke Dompu. 

Hidup di pedalaman dengan gaji pegawai negeri sipil (PNS) yang pas-pasan memaksa Masrun membuka mata lebar-lebar untuk mencari peluang tambahan penghasilan. Naluri bisnisnya muncul ketika dia menemukan rupa-rupa kayu di hutan Dompu. Dia lantas nekat mencari pinjaman dana yang akan digunakan untuk membeli kayu kepada warga lokal. Terkumpullah modal hasil pinjaman sebesar Rp 500 ribu. Modal ini kemudian digulirkan untuk membeli kayu dan membawanya ke Lombok. Setahun di Dompu, Masrun kembali dimutasi ke Pulau Lombok. Kali ini pindah kantor ke Kantor Wilayah Departemen Koperasi Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Sementara bisnis kayu yang dirintisnya tak lantas ditinggalkan. 

Sebagai PNS pangkat rendahan, tentu tak sulit bagi Masrun untuk mengatur waktu bekerja dan menjalankan usaha. Selepas menjalankan rutinitas kantor, Masrun langsung tancap gas menggenjot bisnisnya. Tak jarang Masrun harus turut memindahkan kayu hingga larut malam. Sementara keesokan harinya harus kembali bekerja sebagai PNS. Rutinitas itu berlangsung hingga beberapa tahun kemudian. Dia pun menerapkan manajemen tidak langsung (indirect management) dengan cara menempatkan orang untuk mengalola secara langsung usahanya. Agar bisa menjalankan usahanya sambil bekerja rutin, Masrun memilih untuk mengejar karier birokrasi. Dia merasa cukup nyaman dengan hanya menjadi pegawai biasa di pemerintahan.

“Dulu, jadi PNS itu kaca matanya saja yang plus. Gajinya minus. Gaji sudah habis dipakai bayar cicilan utang. Karena itulah saya memilih bekerja sambil berbisnis,” ujarnya terkekeh. 

Pilihan hidup menjadi pegawai pemerintah sekaligus pengusaha itu membawa Masrun bergaul dengan banyak kalangan. Pembawaannya yang ramah dan supel mengantarkan Masrun pada banyak lingkaran pergaulan, mulai kalangan ulama hingga politikus dan jaringan pengusaha nasional. Berkat kepemimpinannya yang tegas dan mengayomi, sejak 2007 hingga 2015 lalu dia didulat menjadi Ketua Asosiasi Pengusaha Perkayuan Lombok Tengah. Dia juga didapuk menjadi orang nomor satu dalam kepengurusan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Lombok Tengah. 

Ketokohannya di kalangan nahdliyin tak perlu diragukan lagi. Haji Masrun mendapat kepercayaan sebagai bendahara Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Lombok Tengah sejak 2010 hingga sekarang. Ketika sebagian besar mendorongnya menjadi orang nomor satu organisasi keagamaan terbesar tersebut di Lombok Tengah, Masrun memilih menyerahkan dukungannya kepada atasannya di pemerintahan. Dia patuh memegang fatsun dalam berorganisasi. Masrun sudah merasa puas dengan lebih banyak berinteraksi dan membawa manfaat bagi masyarakat. 

Atas pertimbangan ingin lebih banyak membawa manfaat kepada masyarakat itu pula Masrun kemudian memilih fokus mengabdikan diri sebagai PNS. Terhitung sejak 2011 lalu, Masrun mendapat tugas baru sebagai Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Disnakertrans Kabupaten Lombok Tengah. Sejak itu, praktis Masrun tidak lagi berhubungan dengan dunia bisnis. Dia memilih berkhidmat untuk masyarakat Lombok Tengah yang sebelumnya sibuk berkubang dalam lautan masalah ketenagakerjaan. 

Rupanya potensinya yang menonjol dan pengalamannya dalam menyelesaikan banyak sengketa masuk radar Bupati Lombok Tengah Suhaili FT. Tak butuh waktu lama bagi Masrun untuk mendapatkan promosi menjadi Sekretaris Disnakertrans Lombok Tengah untuk kemudian menjadi orang nomor satu di kantor barunya tersebut. Setahun setelah menakhodai Disnakertrans, Lombok Tengah sukses menorehkan namanya sebagai pengelola terbaik pelayanan penempatan pekerja migran Indonesia. Tak hanya Suhaili yang terpesona pada karakter dan kepemimpinan seorang Masrun. Pesona kepemimpin Masrun turut mengundang sejumlah tokoh untuk menawarkan diri menjadi pendampingnya pada Pemilukada 2020.

Ayah yang Visioner

Jika sebagian besar orang tua di Lombok Tengah ingin menjadikan anaknya sebagai pegawai negeri, tidak demikian bagi seorang Masrun. Tak ada “anak harus jadi PNS atau ASN” dalam kamus seorang Haji Masrun.  Masrun senantiasa mendorong keempat anaknya menjadi pribadi-pribadi mandiri dan bermanfaat bagi banyak orang. Alasan ini yang kemudian mendorong Masrun untuk mendapatkan pendidikan terbaik sebagai bekal mengaruhi persaingan yang demikian ketat di kemudian hari.

Belajar dari pengalaman, Masrun meyakini bahwa pendidikan menjadi insrumen utama dalam mobilitas vertikal. Hanya melalui pendidikanlah anak seorang petani atau buruh maupun kaum miskin terpinggirkan lainnya bisa mengubah nasib menjadi seseorang yang berhasil. Tanpa itu, kalangan miskin akan terus terjebak dalam kemiskinannya. Orang miskin menikah dengan orang miskin lagi untuk kemudian melahirkan orang miskin baru. Begitu seterusnya. Jebakan kemiskinan tersebut hanya bisa diputus melalui pendidikan. 

Bukan isapan jempol belaka. Masrun mengirim anak-anaknya keluar dari Pulau Lombok untuk mendapatkan pendidikan di sekolah-sekolah terbaik di Pulau Jawa. Tidak tanggung-tanggung, Masrun mengirimkan anak-anaknya sekolah di Jakarta dan sekitarnya sejak SMP. Mengenai sekolah mana yang akan dituju, Masrun memberikan keleluasaan kepada anaknya. Bagi Masrun, mengirimkan anak sekolah di luar Pulau Lombok penting untuk menanamkan kemandirian sang anak. Untuk bisa mandiri, maka setiap anak harus keluar dari zona nyaman. Jika di rumah semua kebutuhan harian sudah disiapkan orang tua maupun asisten rumah tangga, tidak demikian halnya di tanah rantau. Semua harus bisa dilakukan sendiri. Dan, semua masalah sedapat mungkin bisa diselesaikan sendiri. 

“Saya membesarkan anak menggunakan tiga filosofi. Sebagai raja, budak, dan mitra. Ketika kecil, anak-anak diperlakukan layaknya seorang raja. Semua kebutuhannya dipenuhi. Semua keinginannya dituruti. Beranjak dewasa, mereka diperlakukan layaknya budak. Mereka harus bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan domestik di dalam rumah. Menyapu, mencuci, membersihkan rumah, dan lain-lain. Barulah setelah dewasa mereka menjadi mitra, partner dalam semua hal. Saya memperlakukan mereka seperti sahabat atau mitra kerja. Pekerjaan atau usaha apa yang ingin dipilih, kami diskusikan bersama. Dengan pondasi pendidikan yang baik dan soft skill yang kuat, saya yakin apapun pilihan anak-anak merupakan yang terbaik bagi mereka,” tegas Masrun. 

Kini, Masrun berbangga dengan anak-anaknya. Setelah anak pertama memilih jalan sebagai entrepreneur, anak keduanya resmi dilantik sebagai dokter beberapa waktu ke belakang. Pada saat yang sama, anak kedua juga merintis usaha hospitality dengan mengelola properti milik pemerintah di bilangan Puncak, Jawa Barat. Adapun anak ketiga dan keempat menempuh pendidikan dokter dan sekolah menengah masing-masing di Malang dan Jakarta. Masrun berharap kelak bisa memetik hasil perjuangannya dalam membesarkan anak. Yakni, hadirnya generasi-generasi cerdas, mandiri, dan membawa manfaat bagi khalayak.

Menyimak apa yang telah diraihnya, tak berlebihan jika menyebut Haji Masrun sudah selesai dengan dirinya. Sebagai birokrat di daerah, kepala dinas merupakan puncak capaian karier. Sebagai kepala keluarga, mengantarkan anak-anak mendapatkan pendidikan terbaik dan menentukan pilihan karier secara independen merupakan sebuah berkah hidup tiada terkira. Kini, tersisa satu itikad baik bagi tanah kelahirannya. Sebagai putra Praya, Masrun ingin menyempurnakan pengabdiannya dengan cara mewakafkan diri sebagai pelayan utama masyarakat Lombok Tengah. 

Lombok Tengah Mendunia

Pelayan utama berarti menjadi pemegang otoritas dalam menggerakkan pembangunan Lombok Tengah. Pelayan utama berarti menjadi penentu utama dan sekaligus akhir dari setiap kebijakan Kabupaten Lombok Tengah. Pengalaman Masrun sebagai aparatur menunjukkan adanya batasan kuat dalam setiap inovasi dan daya jangkau layanan karena adanya pembagian ruang dalam tugas pokok dan fungsi dari setiap jabatan yang diemban. Karena itu, hanya seorang kepala daerah yang mampu menjadi katalisator sekaligus dirigen yang mampu membangun harmoni pembangunan di daerah. Dan, kini Masrun memantapkan diri untuk ikut ambil bagian dalam kontestasi Pemilukada Lombok Tengah 2020.

Masrun menilai pemilukada pada hakikatnya merupakan proses politik sekaligus sebagai ajang pesta demokrasi rakyat yang bertujuan melahirkan kepemimpinan kepala daerah yang dipilih langsung oleh rakyat. Dengan demikian, kepemimpinan politik yang diperoleh benar-benar sesuai dengan harapan dan keinginan rakyat secara utuh. Inti dari proses tersebut adalah bagaimana mampu mendorong pembangunan daerah yang merupakan proses untuk kemakmuran masyarakat. Demokrasi harus berbanding lurus dengan kemakmuran masyarakat. Bukan sebaliknya. Untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut, Lombok Tengah menyimpan potensi luar biasa untuk dikembangkan bagi sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat. 

Mandalika sudah ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus, menjadi superprioritas nasional. Penyelenggara MotoGP juga confirmed memilih Lombok Tengah menjadi tuan rumah salah satu serinya. Loteng akan jadi pusat ekonomi baru di NTB, bahkan di Indonesia. Lombok Tengah mendunia menjadi sebuah keniscayaan. Lombok Tengah mendunia yang membawa kesejehteraan bagi warganya.

Selama ini Lombok Tengah memiliki potensi besar yang belum muncul ke permukaan. Yakni, keindahan bentang alam yang tiada bandingannya. Dengan potensi besar tersebut, maka kewajiban setiap warga Lombok Tengah untuk menjadi warga kelas dunia. Yakni, mempersiapkan diri menjadi tuan rumah yang siap bersaing dengan para pendatang yang turut berburu rejeki di Lombok Tengah. Masrun merumuskan cita-cita besar tersebut ke dalam visi “Lombok Tengah Mendunia: Sejahtera Rakyatnya, Agamis Daerahnya” dengan parameter utama hadirnya masyarakat adil, makmur, maju, unggul, dan bermartabat.

Visi besar tersebut kemudian diturunkan ke dalam lima misi utama sebagai berikut: 

1. Mewujudkan pemerataan pembangunan berbasis pariwisata, ekonomi kreatif, agrikultur, dan maritim;

2. Meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi berbasis potensi daerah yang produktif, inovatif, dan mandiri serta berwawasan lingkungan dan berkelanjutan;

3. Mewujudkan tata kelola pemerintahan modern, transparan, profesional, dan berkualitas  yang berorientasi pada pelayanan publik;

4. Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang sehat, kreatif, inovatif dan memiliki daya saing berlandaskan iman dan taqwa; 

5. Mewujudkan kualitas kehidupan masyarakat yang berbudaya, religius, dan peduli lingkungan hidup.

Dengan demikian, munculnya sosok birokrat terbaik yang dengan sepenuh hati melayani, seorang entreprenur ulung yang peduli, seorang nahdliyin yang piawai membangun jejaring benar-benar membawa harapan baru bagi masa depan Lombok Tengah yang mendunia. Perpaduan tersebut diyakini menjadi mampu memerankan diri sebagai tuan rumah sekaligus dirigen yang membangun harmoni dunia. Lombok Tengah Mendunia adalah keniscayaan. (Masrun Media Cenetr)